Showing posts with label sang kyai. Show all posts
Showing posts with label sang kyai. Show all posts

Wednesday, 4 September 2013

Sang Kyai 66

Mengajak kepada kebaikan, itu tugas kepada siapa saja yang sudah ingin menjalankan keislamannya dengan sempurna, orang mengajak kepada kebaikan itu tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi karakter manusia itu berbeda-beda, kalau ngajak di tempat pengajian, atau gembar gembor di tempat yang orangnya sudah dikumpulkan oleh panitia, dan mendapat undangan, ya gembar gembornya mudah, tapi apa ada yang mau ikut? Habis dipidatoni juga paling sudah lupa dengan apa yang dikatakan tukang pidatonya, seperti menyiram air pada keramik, ada debu menempel juga keramiknya sudah kotor lagi, menurutku mengajak itu harus dari hati, harus dari dalam pribadi manusia, dari kedalaman jiwa mereka, buat mereka tertarik dengan hatinya, baru diberi penjelasan kalau sudah ikut.

Dan memberi penjelasan itu tak mudah, apalagi menjelaskan kepada orang yang belum tau sama sekali apa yang akan kita jelaskan, dan dalam pikiran orang itu lepas menuju pemahaman yang bebas, akan makin sulit menjelaskannya, bisa bisa yang kita jelaskan akan mengalami kebingungan akhirnya setelah dijelaskan, bukannya akan paham, tapi malah bingung. Apalagi syaitan juga menghalangi kebaikan itu disampaikan, kebenaran itu dibuka, malah makin sulit lagi, yang kita jelaskan malah ngantuk, dan gak sabar mendengar penjelasan kita karena kata-kata kita yang tak menarik dan ndak ada hadiahnya kalau mendengarkan. Mengajak orang sampai orang itu ikut dan menjalankan yang kita arahkan, menurutku suatu keindahan dan kenikmatan tersendiri, apalagi sampai meneguhkan hati orang, dan merubah pandangan hidupnya, berubah total pada ke arah kebaikan, dan kebahagiaan kekal di sisi Allah.

Tapi bagiku kita mengajak saja ke arah kebaikan, orang perduli apa tak perduli, itu bukan urusan kita, kita lakukan saja dengan ikhlas, Allah pasti sudah mencatat amal ikhlas kita mengajak ke jalan kebaikan, menjadi amal ibadah, ikut atau tak ikut orang yang kita ajak, ndak usah memaksakan kehendak wong hidayah itu miliknya Allah, kita hanya menuruti saja perintah Allah semampunya, wa’mur bil urfi, mengajak ke dalam kebaikan, wanha anil mungkar, dan mencegah kemungkaran. Semampu kita.

Nyatanya makin banyak orang yang kita ajak, akan makin banyak pahala yang kita petik, seperti manager bos perusahaan yang mengajak pada orang banyak untuk ikut bekerja di pabriknya, makin banyak orang yang bekerja, berarti makin banyak produksi dibuat.

Pak sutono dan anaknya yang kerasukan menginap di rumahku berhari-hari, banyak juga yang ku petik pelajaran dari orang setengah baya ini, selama bicara denganku, banyak yang diceritakan, kisahnya bermacam-macam, yah dari kisah seseorang itulah kita kadang memetik hikmah, dan pelajaran, tak mesti kita melakukan kesalahan sendiri, untuk memahami arti hidup dan kehidupan, sekecil apapun kita jadikan pelajaran.

“Maaf pak… apa ini musholla?” tanya pak Sutono padaku sambil menunggui anaknya yang sudah tenang setelah ku keluarkan jinnya.

“Bukan pak… ini majlis…” jawabku singkat.

“Dzikir apa pak…?” tanyanya lagi.

“Bapak lihat sendiri apa yang tertulis di dinding itu?” jawabku singkat lagi sambil mengambil rokok dan ku nyalakan. Aku berusaha menghadapi tamu senyaman mungkin, agar tamuku juga merasa nyaman di depanku, ku tawarkan rokok pada pak Sutono.

“Oh ya… dzikir thoreqoh, apa ini sama yang Suryalaya itu?” tanyanya lagi.

“Ya bisa dikatakan sama, tapi juga beda.”

“Apa kita ini perlu to pak berthoreqoh ?” tanya pak Sutono.

Ku pandang wajah pak Sutono, dan ku angan-angan selama beberapa hari di rumahku, sebab percakapanku ini setelah beberapa hari pak Sutono ada di rumahku, jadi ku ketahui kalau pak Sutono tak pernah sama sekali menjalankan sholat selama tinggal di rumahku, tapi aku juga tak akan memerintahkannya, sebab bisa saja dia berkeyakinan lain, atau beragama lain, aku tak perduli, pertama aku menolong orang sebatas yang bisa ku tolong, entah agamanya apa, itu urusan masing-masing punya keyakinan.

Tapi aku merasa kesulitan juga mau menjelaskan bagaimana menjelaskannya…. setelah lama berfikir, dan rokok ku hisap berkali-kali aku buka suara, walau sekalipun pertanyaan pak Sutono padaku sekedar iseng saja atau bukan.

“Kalau orang Islam, bertharekat itu tidak harus, seperti sebagaimana makan, orang itu tak harus makan, tapi makan akan jadi butuh kalau perut lapar, juga makan tak harus makanan yang bersih, tapi kalau kemudian karena makan lalu sakit, dan berbagai sakit dalam tubuhnya bersarang, dari sakit perut sampai jantung, komplikasi dll, ya menurutku akhirnya juga harus menjaga pola makan yang bersih, agar dirinya sehat wal afiat, seperti bapak ini seumuran bapak tentu punya pengalaman yang banyak, nah masak di pengalaman itu bapak sendiri tidak timbul pertanyaan, kenapa saya kok hidup begini, apa bapak hidup tenang di saat ini?” tanyaku.

“Ya saya memang banyak pengalaman dan berbagai warna hidup ku jalani pak, dari pengalaman hidup saya, saya sendiri belum bisa memetik sedikitpun pelajaran.” jawab pak Sutono.

“Ya itu bisa dilihat dari keadaan bapak yang maaf, masih ku katakan hidup kelihatannya penuh kesengsaraan dan sepertinya lelah dan penuh kekecewaan dan kegagalan.”

“Bener sekali pak, saya memang orang yang sangat-sangat gagal… kalau boleh saya cerita…” kata pak Sutono sambil wajahnya menunggu persetujuanku.

“Ya silahkan pak…” kataku sambil menyalakan rokok, karena kurasa kisahnya akan lama….

“Dari dulu.. tahun 80an, saya sudah bekerja, sebelum saya punya istri dan masih muda, dan saya bekerja di Pekalongan, kerja serabutan, apa saja saya jalani asal dapat bekerja, sampai saya menemukan kerja saya yang sekarang ini sebagai penjual bubur kacang hijau, di antara kerjaan saya sebagai seorang penagih hutang, dulu, kalau nagih hutang, saya sering ke dukun, untuk minta syarat agar kerjaan nagih hutang saya lancar tanpa kendala, ada seorang dukun yang saya andalkan, namanya dalang Waskito, dipanggil ki Waskito, memang dari sarat ki Waskito saya sering mendapat sareat darinya sehingga waktu menagih hutang itu saya menjadi gampang, karena sering ke rumah ki Waskito, kami akhirnya seperti keluarga, ki Waskito tinggal di daerah Krapyak, suatu malam saya dan teman saya namanya Junaidi seperti biasa meminta sareat pada ki Waskito, dan malam itu jam baru saja habis magrib, sedang kami dalam keadaan ngobrol, tiba-tiba ada tamu yang datang, seorang berpakaian hitam-hitam, aneh pak, saya kok merinding melihat orang itu padahal ya orang biasa, otomatis pembicaraan saya, Junaidi dan ki Waskito terhenti, sementara ki Waskito mempersilahkan tamu itu untuk masuk, tapi tamu itu tetap berdiri tak mau duduk.”

“Ki…. sampean saya minta untuk datang, ndalang di rumah saya..” kata orang itu sambil berdiri, aku merasakan nada yang membuat bulu kuduk saya berdiri, padahal yang diucapkan kata biasa.

“Kapan?” tanya ki Waskito.

“Malam ini.” jawab orang itu singkat.

“Wah kok mendadak sekali?” tanya ki Waskito.

“Ya karena anak perempuanku menikah, sudah ada rencana nanggap wayang, kok dalangnya sakit, sehingga pertunjukan gagal, jadi Aki ku minta menggantikan dalangnya, apa aki bisa?” ki Waskito menerawang, sebentar memandangi orang yang datang.

“Di mana daerahnya?” tanya ki Waskito.

“Di desa Keling.”

“Desa Keling kedung ombo?”

“Di mana itu tempatnya?” tanya ki Waskito, setelah mikar mikir desa yang disebutkan tak ada dalam ingatannya, aku saja yang wira wiri, biasa nagih hutang juga gak tau di mana ada desa seperti itu di ingatanku juga tak ku temukan.

“Berapa sampean minta, akan ku bayar ki, sebutkan saja…” kata orang itu.

“Ya… ya… saya akan siap, lalu bagaimana saya kesana, karena kok saya asing dengan nama desa itu?” tanya ki Waskito.

“Sekarang juga barengan saya ki, saya antar.”

“Oh ya.. ya.. saya siap siap dulu.. silahkan sampean duduk, minum dulu..” jawab ki Waskito sembari mempersilahkan tamunya yang terus berdiri itu, ku lihat orang itu tinggi besar, dengan pakaian hitam seperti pakaian jawara orang jaman dahulu.

“Tidak ki, biar saya menunggu di luar saja..” kata orang itu tanpa menunggu persetujuan dan berbalik keluar rumah.”

Setelah orang itu keluar rumah, Junaidi pamit ke kamar kecil, tak tau kenapa dia ingin kencing, sementara tinggal ki Waskito duduk bersama saya.

Ku lihat kerutan yang dalam di jidat ki Waskito, dia seperti memikirkan hal yang sangat berat nampak dia mengelus-elus kumisnya dan jenggotnya yang sudah sebagian memutih.

“Pak Sutono, bagaimana ini, anak ikut saja denganku ya, untuk ikut ke orang yang sedang hajatan mantu itu.” kata Ki Waskito padaku.

“Wah ramai tentu saya mau ki, wong saya juga tidak buru-buru, sekalian nyari hiburan.” jawabku enteng.

“Eh tapi nanti kalau di sana kalau diberi makan, jangan dimakan..” kata ki Waskito

“Lhoh kenapa pak?”

“Ya pokoknya jangan dimakan…, aku ganti baju dulu.” kata Ki Waskito sambil beranjak dari tempat duduknya.

Sebentar kemudian Junaidi telah kembali dari kamar kecil, Junaidi adalah teman akrabku kemana aku berada selalu saja ada dia menemaniku.

“Jun… ini Ki Waskito mengajak kita untuk ikut menemaninya ndalang di daerah Keling kedung ombo, bagaimana Jun?” tanyaku pada Junaidi yang menyalakan rokoknya.

“Wah kebetulan kang, kita ada hiburan gratis, siapa tau di desa itu ada ceweknya yang cantik, dan nyantol ke kita, heheheh… ” jawab Junaidi sambil menyalakan rokoknya.

Sebentar kemudian Ki Waskito sudah keluar dari dalam rumah dengan pakaian ala dalang plus keris yang terselip di pinggangnya bagian belakang. Dan kami segera berangkat, rupanya di luar ada kereta kuda, yang di atas kaisnya sudah ada orang yang tadi menjadi tamu, tanpa banyak bicara kami segera naik di kereta kuda, atau dokar, di Pekalongan disebut gelinding, juga tak ada yang aneh, atau saya sendiri yang tak tanggap, yang menurut saya aneh, kok sepengetahuan saya jalan di daerahnya Ki Waskito itu gak baik, tapi ini selama perjalanan seperti kereta berjalan dengan mulus tanpa ada goncangan, seperti layaknya mobil mewah saja, sebentar perjalanan sudah sampai di tempat keramaian di mana pertunjukan wayang di adakan… kami segera turun, dan berjalan di antara orang ramai untuk mencari tempat duduk, sementara Ki Waskito sudah diminta maju ke depan untuk memulai tampil sebagai dalang, saya dan Junaidi duduk di antara para tamu, di atas meja aneka makanan tersedia, sangat lezat-lezat dan mengugah selera, aku duduk terpisah dengan Junaidi karena biasa kami berdua kan masih muda jadi mencari perempuan di area pertunjukan, melihat makanan yang lezat rasanya ingin makan, tapi saya ingat pesan ki Waskito kalau ndak boleh makan makanan yang disajikan, wah saya sampai lupa memberi tau pada Junaidi, semoga saja tak terjadi apa-apa…, sampai pertunjukan wayang selesai.

Mata terkantuk-kantuk, perut lapar, karena tak boleh makan makanan yang di sajikan, akhirnya pertunjukan wayang usai, akan pulang kami dibekali aneka makanan dan juga diberi amplop berisi uang, waktu mau pulang, kami bertiga dibilangi supaya pulang sendiri, dan disuruh jalan saja lurus jangan nengok, aneh baru beberapa langkah berjalan kami keluar dari dalam hutan Roban, bertemu dengan orang kampung yang sedang buang hajad di pinggir hutan, yang menatap kami dengan pandangan heran, apalagi melihat ki Waskito yang berpakaian dalang.

“Wah ini dari alam lelembut to ki? Pantesan semalem ramai dalam hutan ada suara pagelaran wayang…” kata orang itu ditujukan kepada ki Waskito.

“Ini hutan mana?” tanya ki Waskito.

“Ya ini alas roban to ki..”

“Walah benar juga perkiraanku..” dengus ki Waskito yang segera berjalan di antara pepohonan, sambil kami berdua ikuti.

“Waduh ki perutku mual…!” suara Junaidi, disusul dengan muntah-muntah, dan yang dimuntahkan adalah beraneka ulat, singgat, kelabang, dan aneka binatang menjijikkan, ada cacing, kecoak, ada yang dalam keadaan mati ada juga yang masih hidup. Saya segera membuka daun pisang pembungkus makanan yang diberikan pada saya, dan isinya tak beda dengan yang dimuntahkan Junaidi, segera saya campakkan.

Sementara ki Waskito mengurut-urut punggung Juanaidi agar apa yang dimakan bisa dimuntahkan semua, wajah Junaidi pucat pasi.

“Sampean gak ikut makan kan dek Sutono?” tanya ki Waskito.

“Tidak ki…, maaf ki saya lupa mengingatkan pada Juanidi, sehingga dia makan di sana tadi, jadi semalam itu kita di alam lelembut ya ki?”

“Ya begitulah… coba keluarkan uang yang diberikan padamu.” kata ki Waskito.

Saya segera mengeluarkan uang yang diberikan padaku, ternyata hanya daun kering, segera ku buang, sungguh pengalaman yang aneh, kami akan selalu mengingat pengalaman itu…..” pak sutono mengakhiri ceritanya.

“Aneh juga sampean pengalamannya pak..” kataku…

“Ya pengalaman orang itu aneh-aneh pak yai..” jawab pak Sutono, “Saya juga pernah ketika menjual bubur kacang hijau, karena jualannya malam, jadi banyak juga bahkan sering pas jualan ada saja misal kuntilanak, yang menyerupai manusia yang ikut beli.”

“La sampean ndak takut pak, ada kuntilanak beli bubur kacang hijau yang sampean jual?”

“Ya gak takut lah wong ndak tau..”

“Lhoh… katanya tadi ada kuntilanak yang beli, kok gak tau?”

“Ya taunya kan setelah pulang, banyak uang yang jadi daun kering.”

“Ooo begitu rupanya…?”

“Ya pak yai..”

“Ya kalau dengan memedi saya ndak begitu takut pak yai, kalau lebih takut itu sama orang jahat, mereka kan bisa membunuh orang beneran.”

“Memangnya pernah punya pengalaman itu pak?”

“Pernah juga pak yai..”

“Bagaimana itu pengalamannya?”

“Begini ceritanya, saya pernah bekerja di pengantaran barang, jadi sopir truk, Jakarta Surabaya, untuk mengantarkan barang antaran, saat itu tahun 86, di mana Alas Roban masih banyak bajing loncat, dan pas kebetulan mobil truk yang saya bawa diserang bajing loncat, saya tidak berdaya, dan digiring ke dalam hutan, barang kiriman saya dipindah ke truk mereka, dan saya mau dibunuh, akan dilemparkan ke dalam jurang, saya sudah pasrah, wong diikat dan diseret ke dalam hutan, ada grombolan bajing loncat, yang ditugasi membunuh saya, ketika saya mau dibunuh, kok kalau Allah belum menghendaki mati ada saja cara Allah menyelamatkan saya.”

“Bagaimana itu kok bapak bisa selamat?” tanyaku penasaran.

“Ya saat itu saya mau dipenggal, dan mayat saya mau dilempar ke dalam jurang, tapi ketika pedang mau diayunkan ke kepala saya, ada salah seorang yang menahan.”

“Ee sebentar… sebentar dulu Jo..! Kok saya seperti pernah melihat orang ini.” kata orang itu sambil menyenterkan senter yang dibawanya ke arah saya.

“Wah benar saja ini kang Sunoto, tetanggaku Jo..” kata orang yang mengarahkan cahaya senternya ke arahku, sambil mengangkat wajahku yang menunduk pasrah.

“Dah lepaskan lepaskan…” kata bajing loncat yang mengenaliku, yang wajahnya masih tertutup dengan kain penutup wajah.

“Ini saya kang, tetanggamu.. Wugiri.” kata pemuda di depanku yang membuka penutup wajahnya.

Aku hanya bengong “Wah kok bisa begitu kamu Wu? kok jadi garong begitu?”

“Ya tuntutan utang kang..” jawab Wugiri.

“Ya memang kalau Allah mau menyelamatkan orang ya akan diselamatkan, misal kok tetanggane sampean itu kok gak jadi salah satu bajing loncatnya, mungkin nyawane sampean juga sudah pergi ke akherat, jadi segala sesuatu itu disyukuri saja, juga ndak perlu menyalahkan Wugiri itu, bisa saja dia awalnya menanggung banyak hutang, lantas kemudian masuk menjadi group bajing loncat, sebenarnya maksud Allah adalah agar dia dijadikan Allah jalan waktu sampean dirampok, maka sampean bisa diselamatkan, Allah itu mengatur segala sesuatu dengan rantai berantai, sambung menyambung.” jelasku.

“Iya kyai, saya selama ini malah menyalahkan Wugiri, kenapa kok dia jadi rampok begitu…. iya benar juga kata pak kyai, kalau Wugiri tak jadi perampok, bisa saja sekarang saya sudah mati.” kata Sutono, matanya menerawang jauh, mungkin membayangkan Wugiri yang telah menolongnya, tapi malah selalu dia salahkan karena telah menjadi perampok.

Pak Sutono dan anaknya beberapa hari tidur di majlis, sehingga banyak waktu dia pakai mengobrol denganku, selama ku lihat di majlisku juga tak pernah ku lihat pak Sutono menjalankan sholat, tapi aku biarkan saja, walau banyak komplain dari para jamaah dzikirku, dan timbul antipati dari mereka, rasa kasihan yang awalnya ada pelan-pelan terkikis, rasa simpati juga mulai tipis melihat anak bapak itu tak melakukan sholat, tapi ku biarkan saja, setiap orang punya keyakinan masing masing.

“Dzikir di majlis ini dilakukan kapan saja pak kyai?” tanya pak Sutono di sela pembicaraan kami berdua.

“Tiap hari ada, tapi kalau mau ikut yang banyak orang ikut saja di malam minggu legi sama minggu kliwon..” jawabku dengan setengah menjelaskan.

“Kok malam minggu legi sama malam minggu kliwon? Seperti ada unsur kejawennya?” tanyanya dengan enteng.

“Itu hanya penempatan waktu, untuk mempermudah saja, sebab cabangnya yang banyak, sehingga agar tidak bertabrakan dengan jadwal dzikir di cabang yang lain, dan bila dikehendaki kumpul bersama di majlis pusat, semua cabang tak meninggalkan jadwal dzikirnya.” jelasku.

“Ooo tak berkaitan dengan itungan jawa?”

“Tidak.”

“Saya dan teman-teman saya kemaren berembug, itu teman-teman yang kemaren menghantar kami kesini, mereka ingin ngajak kita ikut majlis dzikir ini, apa diperbolehkan?”

“Ya boleh saja, silahkan saja datang…, waktu ada jadwal dzikir.”

“Apa syaratnya?”

“Ndak pakai syarat, pakai saja pakaian putih kalau punya, kalau ndak punya juga gak usah pakaian putih, pakai pakaian biasa aja asal rapi, dan bawa air untuk diisi doa, nanti untuk keperluan masing-masing.”

“Itu apa air bisa untuk keperluan kami yang kebanyakan jualan bubur kacang hijau.”

“Ya insaAllah akan berkah dan laris jualannya, dipakai saja nanti dibuktikan sendiri, kalau saya bicara muluk-muluk nanti juga apa gunanya kalau ternyata tak ada efeknya apa-apa, kan sama saja saya menipu, jadi ikut saja dzikir, bawa air, nanti airnya dido’akan sendiri untuk agar jualan bubur kacang hijaunya laris, nah dibuktikan sendiri, nanti laris apa gak?”

“Apa dipungut biaya?”

“Wah endak sama sekali, sama sekali gak pakai biaya, malah di sini yang ikut dzikir itu dijuluki BAJINGAN.”

“Lhoh kok dijuluki bajingan pak kyai?”

“Iya soalnya BAr ngaJI maNGAN, itu bahasa jawa, artinya habis ngaji langsung makan.”

“Ooo begitu…”

“Jadi boleh ya kami ikut?”

“Boleh.” jawabku singkat, ya karena aku juga tau, pembicaraan kami hanya basa basi semata, seperti orang gak ada bahan pembicaraan jadi bicara yang bisa dibicarakan, karena pak Sutono juga tak pernah datang pada pertemuan pengajian sama sekali, itu hal yang wajar, dan mengajak seseorang pada kebaikan juga tak semudah itu, hidayah itu hanya Allah kehendaki pada orang yang Allah kehendaki mendapatkannya, kadang jauh juga dapat kadang dekat juga tak dapat.

Yang kadang aneh malah jamaah dzikirku kadang yang datang dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, Bandung, Purwokerto, Semarang, Jogya Solo, Surabaya, tapi malah tetangga kanan kiri jarang ada yang mau ikut, nah itu yang kadang aku sendiri merasa aneh.

“Maaf pak yai, saya boleh bertanya?”

“Boleh… bukannya dari tadi kita tanya jawab?”

“Ini soal istri saya.”

“Kenapa dengan istrinya?”

“Istri saya itu suka kerasukan juga dari dulu.”

“Maksudnya pak?”

“Ya istri saya itu suka sekali kerasukan, kalau anak saya ini yang kerasukan, orang 5 masih kuat memeganginya, tapi kalau istri saya yang kerasukan, orang 8 juga masih dilempar.”

“Kok kuat begitu..?”

“Iya kalau kerasukan itu suka menggereng-gereng seperti macan.”

“Begitu ya… coba dibawa kesini.”

“Sudah saya ajak kesini kyai, tapi gak mau…”

“Apa istrinya punya ilmu, maksudku pernah mempelajari ilmu yang aneh?”

“Iya kyai…. ayah istri saya kan dukun, yang biasa juga mengobati orang.”

“Ooo la kok kenapa ndak mengobati anaknya sampean yang mau dikorbankan orang yang mengambil pesugihan.”

“Sudah berusaha tapi langsung kalah, dan sakit, jadi tak berani lagi,”

“Apa yang dipelajari istri sampean?” tanyaku.

“Itu kyai, ini menurut kyai benar apa salah?”

“Bagaimana itu?”

“Saya biasanya kalau sama istri, misalkan saja kami mau pulang ke Cirebon, sedang kami sama sekali ndak punya ongkos, kami tetap saja naik bus, dan nanti di bus mantra istri saya dibaca, dan anehnya kami kemana saja tak akan ditarik ongkos.”

“Wah itu ya salah, gak benar seperti itu.”

“Tapi kami kepepet saja, tak kami pakai tiap hari kok kyai.”

“Ya kalau tiap harinya gak punya ongkos dan tiap hari kepepet ya kan dipakai tiap hari, malah tiap jam..”

“Iya juga ya, hehehhe..”

“Itu kan kasihan sopir busnya gak dapat uang, la misal semua penumpang itu punya kebisaan seperti istri sampean, la semua bus di Indonesia akhirnya gulung tikar, gak ada yang operasi, sebab gak ada yang dapat uang, padahal sopir bus itu juga kondekturnya kan juga punya anak bini yang harus dihidupi, ini misal saja sampean, jualan bubur kacang hijau, la semua yang beli memakai ilmu kayak ilmu yang dipakai istri sampean, apa sampean gak bubar sehari dua hari jualan, soale bubur habis, tapi ndak ada sama sekali uang yang masuk, semua makan gratis.”

“Jadi ndak boleh ya pakai ilmu seperti itu?”

“Ya boleh gak sampean bubur kacang hijuanya dimakan banyak orang tapi gratis semua?”

“Ya gak boleh, nanti bagaimana makan anak istri saya.”

“Nah tau begitu, jadi sebenarnya kebaikan itu sangat mudah mempelajarinya, orang punya budi pekerti mulia dan baik itu mudah, lihat saja, kalau orang lain itu melakukan sesuatu perbuatan pada kita, kita gak mau, maka jangan lakukan perbuatan itu pada orang lain, ilmu itu bermanfaat kalau bisa bermanfaat untuk orang lain, apapun ilmu kok bermanfaat untuk banyak orang, maka itu dikatakan ilmu manfaat, kalau merugikan orang lain, sekalipun ilmu, ya tidak dikatakan bermanfaat, namanya merugikan, dan merugikan orang lain itu tetap dicatat oleh Allah, akan dimintai pertanggung jawaban, sekecil apapun, la kok mempelajari sesuatu kok yang nantinya akan menyusahkan diri sendiri, kalau mempelajari sesuatu itu kalau menurutku yang menguntungkan di dunia juga di akherat, sekalipun menguntungkan di dunia, tapi kok merugikan di akherat, ya tetap saja itu namanya merugikan diri sendiri, misal pinter korupsi, sampai gak ketangkep, atau jagoan nyopet, tapi gak pernah ketangkep, atau jago menghamili anak orang dan gak pernah ketangkep, ya tetap saja nanti ada hukumnya Allah yang akan menghisap, memperhitungkan, malah di sana lebih hebat hukumannya,” jelasku panjang lebar, gak tau paham apa enggak.

Lanjutku, karena melihat pak Sutono terdiam,

“Sbenarnya apa saja keilmuan yang bersandarnya pada selain Allah itu merugikan, misal ilmu yang memakai khodam jin.”

“Maksudnya memakai khodam jin pak? Soale saya pernah mengikuti gemblengan, kata gurunya itu khodamnya malaikat.”

“Ya memakai tidak khodam jin bisa dilihat dari bentuk menjalaninya.”

“Ada berbagai ilmu, ilmu itu ada yang dipelajari ada juga yang diberikan langsung oleh Allah, ilmu yang dipelajari itu berasal dari hasil laku manusia atau warisan dari bangsa jin, segala ilmu yang dipelajari untuk memperoleh kelebihan atau kesaktian terntentu itu semua berkhodam jin, entah ilmu hikmah, ilmu kejawen, ilmu karuhun, aji-aji kesaktian…”

“Lhoh masak begitu to pak kyai? Apa ndak khodamnya malaikat juga ada? Misal saya itu berdzikir dari asma Allah apa saya juga dapatnya khodam jin, bukan malaikat?”

“Nah itulah yang perlu dipahami dan dimengerti, bisa jadi malah syaitan yang masuk menjadi khodam kita tanpa kita sendiri tau dan memahaminya, malah mengira syaitan itu adalah pertolongan Allah, “Sesungguhnya setan masuk (mengalir) ke dalam tubuh anak Adam mengikuti aliran darahnya, maka sempitkanlah jalan masuknya dengan puasa”.”

Setan jin menguasai manusia dengan cara mengendarai nafsu syahwatnya. Sedangkan urat darah dijadikan jalan untuk masuk dalam hati, hal itu bertujuan supaya dari hati itu setan dapat mengendalikan hidup manusia. Supaya manusia terhindar dari tipu daya setan, maka manusia harus mampu menjaga dan mengendalikan nafsu syahwatnya, padahal manusia dilarang membunuh nafsu syahwat itu, karena dengan nafsu syahwat manusia tumbuh dan hidup sehat, mengembangkan keturunan, bahkan menolong untuk menjalankan ibadah.

Dengan melaksanakan ibadah puasa secara teratur dan istiqomah, di samping dapat menyempitkan jalan masuk setan dalam tubuh manusia, juga manusia dapat menguasai nafsu syahwatnya sendiri, sehingga manusia dapat terjaga dari tipudaya setan. Itulah hakekat mujahadah. Jadi mujahadah adalah perwujudan pelaksanaan pengabdian seorang hamba kepada Tuhannya secara keseluruhan, baik dengan puasa, shalat maupun dzikir. Mujahadah itu merupakan sarana yang sangat efektif bagi manusia untuk mengendalikan nafsu syahwat dan sekaligus untuk menolak setan. Allah s.w.t berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka berdzikir kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat”. (QS.al-A’raaf.7/201)

Yang dimaksud dengan lafad “Tadzakkaruu” ialah, melaksanakan dzikir dan wirid-wirid yang sudah diistiqamahkan, sedangkan yang dimaksud “Mubshiruun”, adalah melihat. Maka itu berarti, ketika hijab-hijab hati manusia sudah dihapuskan sebagai buah dzikir yang dijalani, maka sorot matahati manusia menjadi tajam dan tembus pandang.

Jadi, berdzikir kepada Allah s.w.t yang dilaksanakan dengan dasar Takwa kepada-Nya, di samping dapat menolak setan, juga bisa menjadikan hati seorang hamba cemerlang, karena hati itu telah dipenuhi Nur ma’rifatullah. Selanjutnya, ketika manusia telah berhasil menolak setan Jin, maka khodamnya yang asalnya Jin akan kembali berganti menjadi golongan malaikat.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) “Janganlah kamu merasa takut janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (30) Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”. (QS. Fushilat; 41/30-31)

Firman Allah s.w.t : “Kami adalah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan di dunia maupun di akherat”, itu menunjukkan bahwa malaikat-malaikat yang diturunkan Allah s.w.t kepada orang yang istiqamah tersebut adalah untuk dijadikan khodam-khodam baginya.

Jadi, bagi pengembara-pengembara di jalan Allah, kalau pengembaraan yang dilakukan benar dan pas jalannya, maka mereka akan mendapatkan khodam-khodam malaikat. Seandainya orang yang mempunyai khodam Malaikat itu disebut wali, maka mereka adalah waliyullah. Adapun pengembara yang pas dengan jalan yang kedua, yaitu jalan hawa nafsunya, maka mereka akan mendapatkan khodam Jin. Apabila khodam jin itu ternyata setan maka pengembara itu dinamakan walinya setan. Jadi Wali itu ada dua (1) Auliyaaur-Rohmaan (Wali-walinya Allah), dan (2) Auliyaausy-Syayaathiin (Walinya setan). Allah s.w.t menegaskan dengan firman-Nya:

“Dan orang-orang yang tidak percaya, Wali-walinya adalah setan yang mengeluarkan dari Nur kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS.al-Baqoroh.2/257)

“Sesungguhnya kami telah menjadikan setan-setan sebagai Wali-wali bagi orang yang tidak percaya.“ (QS. Al-A’raaf; 7/27)

Seorang pengembara di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun wirid, mujahadah maupun riyadlah lelaku, kadang-kadang dengan melaksanakan wirid-wirid khusus di tempat yang khusus pula, perbuatan itu mereka lakukan sekaligus dengan tujuan untuk berburu khodam-khodam yang diingini. Khodam-khodam tersebut dicari dari rahasia ayat-ayat yang dibaca. Semisal mereka membaca ayat kursi sebanyak seratus ribu dalam sehari semalam, dengan ritual tersebut mereka berharap mendapat­kan khodamnya ayat kursi.

Sebagai pemburu khodam, mereka juga kadang-kadang mendatangi tempat-tempat yang terpencil, di kuburan-kuburan yang dikeramatkan, di dalam gua di tengah hutan belantara. Mereka mengira khodam itu bisa diburu di tempat-tempat seperti itu. Kalau dengan itu ternyata mereka mendapatkan khodam yang diingini, maka boleh jadi mereka justru terkena tipudaya setan Jin. Artinya, bukan Jin dan bukan Malaikat yang telah menjadi khodam mereka, akan tetapi sebaliknya, tanpa disadari sesungguhnya mereka sendiri yang menjadi khodam Jin yang sudah didapatkan itu. Akibat dari itu, bukan manusia yang dilayani Jin, tapi merekalah yang akan menjadi pelayan Jin dengan selalu setia memberikan sesaji kepadanya.

Sesaji-sesaji itu diberikan sesuai yang dikehendaki oleh khodam Jin tersebut. Memberi makan kepadanya, dengan kembang telon atau membakar kemenyan serta apa saja sesuai yang diminta oleh khodam-khodam tersebut, bahkan dengan melarungkan sesajen di tengah laut dan memberikan tumbal. Mengapa hal tersebut harus dilakukan, karena apabila itu tidak dilaksanakan, maka khodam Jin itu akan pergi dan tidak mau membantunya lagi. Apabila perbuatan seperti itu dilakukan, berarti saat itu manusia telah berbuat syirik kepada Allah s.w.t. Kita berlindung kepada Allah s.w.t dari godaan setan yang terkutuk.

Memang yang dimaksud khodam adalah “rahasia bacaan” dari wirid-wirid yang didawam­kan manusia. Namun, apabila dengan wirid-wirid itu kemudian manusia mendapatkan khodam, maka khodam tersebut hanya didatangkan sebagai anugerah Allah s.w.t dengan proses yang diatur oleh-Nya. Khodam itu didatangkan dengan izin-Nya, sebagai buah ibadah yang ikhlas semata-mata karena pengabdian kepada-Nya, bukan dihasilkan karena sengaja diusahakan untuk mendapatkan khodam.

Apabila khodam-khodam itu diburu, kemudian orang mendapatkan, yang pasti khodam itu bukan datang dari sumber yang diridlai Allah s.w.t, walaupun datang dengan izin-Nya pula. Sebab, tanda-tanda sesuatu yang datangnya dari ridho Allah, di samping datang dari arah yang tidak disangka-sangka, bentuk dan kondisi pemberian itu juga tidak seperti yang diperkiraan oleh manusia. Demikian­lah yang dinyatakan Allah s.w.t:

“Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah. Allah akan menjadikan jalan keluar baginya (untuk menyelesaikan urusannya) (2) Dan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak terduga.” (QS. ath-Tholaq; 65/2-3)

Khodam-khodam tersebut didatangkan Allah s.w.t sesuai yang dikehendaki-Nya, dalam bentuk dan keadaan yang dikehendaki-Nya pula, bukan mengikuti kehendak hamba-Nya. Bahkan juga tidak dengan sebab apa-apa, tidak sebab ibadah dan mujahadah yang dijalani seorang hamba, tetapi semata sebab kehendakNya. Hanya saja, ketika Allah sudah menyatakan janji maka Dia tidak akan mengingkari janji-janji-Nya.

Di luar itu, orang-orang yang dengan sengaja menjalani laku untuk memperoleh keilmuan itu sudah dipastikan akan mendapat khodam jin, orang yang menjalankan laku dengan keikhlasan menjalani saja masih akan didatangi jin, untuk sekedar ingin menjadi khodam, apalagi yang menjalankan lelaku yang ada kehendak maksud tujuan pada selain Allah, yaitu kesaktian, kelebihan dalam hal tertentu, pasti jin sudah akan mendatangi, cuma orang yang menjalankan lelaku secara ikhlas, ketika dirinya didatangi jin untuk menolong membantunya, lantas dia tidak perduli, maka dirinya akan naik ke tingkatan level yang lebih tinggi, lantas para malaikat akan didatangkan Allah untuk menjadi khodamnya, dengan menjalankan apa yang menjadi kehendak dan keperluan orang itu, ketika orang itu tidak perduli, maka dia akan naik ke level yang lebih tinggi lagi sampai dirinya itu diijabah langsung oleh Allah tanpa harus dengan perantara atau sebab yang menjadikan hal itu terjadi.

“Jadi walau misal saya menjalankan wirid atau menjalankan laku dzikir itu tetap saja khodamnya adalah dari jin?”

“Ya itulah proses yang sudah ku sebutkan.”

“Lalu bagaimana mengetahui khodam itu jin atau bukan?”

“Kalau jin itu jelas, mudah diketahui, sebab jin itu juga punya nafsu, kehendak dan kepentingan, sekalipun dia itu adalah jin muslim.”

“Bagaimana cara mengetahuinya?”

“Ya kan kalau amalan itu memakai ada kemenyan, kembang, sesajen, penyediaan minyak wangi atau ugo rampe persyaratan, jelas itu tak bisa dipungkiri itu adalah unsur khodam jin.” jelasku.

“Lalu apa menulis rajah rajah, itu juga sama?”

“Ya sama itu juga jin, cuma bukan jin penghuni bumi ini, tapi dari jin penghuni tuju bintang.”

“Jadi bukan malaikat?”

“Bukan…, malaikat itu hanya tunduk kepada Allah, tidak tunduk kepada manusia manapun, jadi khodam malaikat misal punya itu dari yang Allah anugerahkan, bukan dari belajar ilmu tertentu, dan yang jelas malaikat itu tak doyan makan, juga tak doyan sesembahan, atau sesajen apapun, la kalau malaikat itu doyan makan, akan terjadi cerita aneh, karena ada malaikat maut yang nongkrong di warung bakso, ketika mau mencabut nyawa seseorang yang rumahnya dekat warung bakso, karena mencium bau bakso jadi ngiler, dan ingin mencicipi, ndak pernah kan mendengar cerita seperti itu?”

“Wah kyai bisa saja…”

“Lalu bagaimana dengan orang yang mengamalkan hizib? dan dzikir yang macem-macem, apa juga khodamnya khodam jin?”

“Ya itu tadi, awalnya seseorang itu akan tetap didatangi khodam jin, sekalipun orang tarekat juga sama, yang menjalankan amaliyah thoreqoh, juga akan didatangi khodam jin, ya pertama untuk menjadi khodam kita, nah kita di saat itu kepincut tidak?”

“Wah kalau begitu ya harus hati-hati, dan sulit juga membedakan mana yang khodam malaikat atau khodam jin.”

“Makanya sebaiknya menjalankan lelaku mendekatkan diri kepada Allah itu butuh guru pembimbing, sebagaimana orang mau ke Jakarta naik bus butuh sopir bus yang sudah tau jalannya, sehingga orang tak salah jalan, dan kesasar kemana-mana, seorang sopir itu tak harus orang hebat, asal dia sudah hafal jalannya karena sudah biasa melewatinya, sekalipun seorang penumpang lebih pintar menyetir malah sebagai pilot pesawat, kalau dia tak tau jalan yang dituju, ya harus tetap jadi penumpang, ndak usah ngeyel jadi sopir, karena merasa pinter nyetir, jika naik bus juga harus mau dibawa belok kanan atau ke kiri oleh sopir, jangan komplain, karena bus dibelokkan ke kanan, atau bus dibelokkan ke kiri. Seorang guru pembimbing spiritual itu tak perlu orang hebat atau sakti mandraguna, asal orang itu sudah hafal jalan dan biasa melewatinya, maka sudah pantas dijadikan sopir.”

Ku lihat pak Sutono sudah ngantuk… ku suruh saja dia tidur.

Friday, 5 July 2013

Sang Kyai 65

Jam menunjukkan jam 10 malam, baru saja buka internet, ada telpon masuk, katanya ada orang kesurupan yang mau datang dari Cirebon, tapi sekarang lagi ditangani di sebuah mushola, dan akan dibawa ke rumahku, sekarang lagi ngamuk-ngamuk di mushola dipegangi 8 orang, apa aku mau menerimanya jika dibawa kerumahku? Ku jawab tak apa-apa, dibawa saja datang, pasti ku terima.

Ku tunggu sampai jam 11 lebih, kenapa tak juga datang, padahal jarak mushola yang dimaksud dengan rumahku juga paling sejarak 1 KM, kenapa tak juga datang? Heran, padahal yang mengantar katanya ada 1 orang muridku. Tetap saja ku tunggu, akhirnya mobil yang membawa perempuan kecil yang kerasukan itupun datang, dan awalnya ku lihat pas datang sebelum masuk rumahku, dipegangi orang, segera ku tatakan tempat untuk tiduran yang nyaman, dan anehnya yang kerasukan kenapa anteng saja, dan diam saja seperti tiduran tak bergerak.

“Katanya tadi ngamuk-ngamuk?” tanyaku pada semua orang yang membawanya ada 9 orang.

“Iya pak, tadi ngamuk, malah di mobil juga ngamuk-ngamuk. kami kuwalahan.” jawab salah satu orang yang memakai peci hitam.

“Kok sekarang anteng?”

“Ya ngamuknya kalau ada yang memegang pak..” jelasnya, “Tadi juga sudah dipanggilkan kyai dan orang yang bisa mengobati, ee malah orangnya ditendang, dan dipanggilkan orang yang membacakan al-qur’an, malah dibilangin, sudah berapa kali kamu khatam qur’an kok berani-beraninya membacakan padaku? Juga pas di mushola tadi nantang-nantang, siapa yang punya ilmu ditantang mau diajak duel…”

“Wah kok sampai begitu?”

“Iya pak… saya ayahnya, nama saya Sutono, iya pak memang kejadiannya begitu…” jawab lelaki setengah baya yang mengaku sebagai ayah si anak yang kerasukan.

“Sebentar….” ku ambil air dan ku suruh minumkan ke gadis kecil yang kerasukan.

Susah juga memasukkan air, karena bibirnya menutup rapat dan tak terbuka sama sekali, ku tempelkan saja tanganku di punggung gadis itu, sehingga konsentrasi jin biar ke tanganku, dan mulutnya bisa terbuka dan air bisa masuk ke mulutnya, Alhamdulillah mulutnya terbuka dan air pun bisa masuk.

Kontan terjadi reaksi, tubuh gadis itu menggeliat, dan mencoba berontak dia berusaha mencekikku, tapi tak sampai cekikannya ke leherku, berusaha menyerangku tapi seperti serangannya ada yang menahan. Ku tanya siapa di dalam? Tapi tak juga ada jawaban, berulang kali ku tanya tetap saja mulutnya terkatup rapat.

Karena merasa tak ada manfaat yang bisa ku ambil, maka jin segera ku keluarkan. Dan gadis kecil itu pun sadar.

“Ini ceritanya bagaimana pak, awal mulanya seperti ini?” tanyaku kepada pak Sutono.

“Ini begini kyai awalnya… anak saya mau dikorbankan jadi tumbal pesugihan.” jawab pak Sutono.

“Tumbal pesugihan?” tanyaku heran, walau dalam kenyataannya saya belum pernah mengalami sendiri bagaimana sebenarnya tumbal pesugihan itu, tapi kalau cerita apalagi cerita di Pekalongan ah cerita itu sepertinya sudah makanan sehari-hari dari mulut ke mulut, cuma secara prakteknya saya sendiri belum mengalami secara pengobatan maupun kejadian. Aneh juga dan hm masuk akal atau bukan ya sudah ikuti saja cerita yang terjadi.

“Bisa diceritakan lengkapnya pak?” tanyaku.. “Bagaimana awalnya dan bagaimana sampai dibawa kesini ini.”

Pak Sutono mulai bercerita.

“Awalnya terjadi kerasukan masal di sekolah SMA di daerah saya sana pak pas kejadian ada acara upacara, di mana anak saya ini sekolah, juga awalnya anak saya ini tidak ikut kerasukan, jadi dia yang malah mau bantu menolong kerasukan, eee malah anak saya yang kemudian kerasukan, dan yang lain sudah pada sembuh, anak saya malah yang gak ikut sembuh, sampai dibawa pulang juga gak sembuh, lantas saya carikan obat kesana kemari, untuk mengobati anak saya yang kerasukan gak sembuh-sembuh, saya sampai kemana-mana mencari obat agar anak saya sembuh dari kerasukan, berapa uang saja saya keluarkan agar anak saya sembuh, tapi tetap saja berganti-ganti orang kerasukan anak saya gak sembuh-sembuh, malah ada yang ditendang sampai pingsan, ada yang dicakar sampai berdarah-darah, juga ada yang disembur pakai darah, sama anak saya ini… saya sampai kuwalahan, bagaimana lagi, dan kemana lagi mencari obat, sampai akhirnya anak saya sudah saya kira mati, karena nafasnya sudah gak ada, sudah tiga hari, semua tubuhnya juga sudah dingin, jadi saya menganggapnya sudah meninggal, maka akan saya kuburkan, ee ada datang seorang kyai yang datang ke rumah, gak tau juga siapa yang ngundang saya gak tau. Tau tau saja dia datang ke rumah saya, mencegah saya menguburkan anak saya ini.

“Jangan kuburkan anakmu, dia belum meninggal, sukmanya sedang ditawan.” kata kyai itu.

“Lalu bagaimana ini pak… anak saya sudah ndak ada nafasnya begitu..” jawab pak Sutono.

“Gak papa biar saya bantu menarikkan, sebentar saya akan memanggil teman-teman saya..”

Kata kyai itu sampil bergegas pergi dan kembali dengan membawa sepuluh orang.

Kemudian sepuluh orang itu menjalankan lelaku ritual, menarik sukma anak saya. Setelah setengah harian menjalankan lelaku, maka alhamdulilah tangan anak saya bergerak gerak, dan akhirnya bisa bergerak dan sadar, tapi aneh, seluruh tubuhnya menghitam.

Saya kasihan sekali melihat keadaan anak saya, kata kyai tersebut anak saya mau dikorbankan pada pesugihan, sebenarnya awalnya juga saya tak tau pak bagaimana kok ada tumbal pesugihan segala, tapi setelah dicermati memang ada orang yang bernama Bowo yang sebagai donatur sekolah dia kaya raya, usahanya di mana-mana, vila, hotel, dan berbagai usaha ditekuninya, secara logika ya tak heran kalau orang itu kaya, karena memang banyak usahanya, tapi apa mungkin, tapi memang di sekolah tempat anak saya sekolah ini memang sudah banyak anak sekolah yang meninggal, ya ada saja sebabnya kebanyakan karena terjadi kecelakaan, misal ada yang kemaren yang ada anak tiga dilindas truk pasir, lalu ada yang ditabrak kereta api padahal palang kereta sudah ditutup, herannya anak itu menerobos palang kereta, dan ditabrak kereta api, ada juga yang naik motor cuma nabrak spion angkot lantas begitu saja jatuh mati, pokoknya aneh-aneh lah pak kejadiannya, sampai tak masuk akal, dan kalau dihitung sudah korban kejadian itu ada 37 orang, jadi maunya 40 orang maka tinggal 3 orang, nah anak saya inilah yang nomer 38 pak.”

“Wah panjang juga ceritanya.”

“Nah setelah kyai yang menolong anak saya untuk sembuh itu selesai menyadarkan anak saya, anak saya pun cerita bahwa selama tiga hari itu dia dibawa ke kerajaan jin, ke rumahnya ibu Ratu Dewi, di Paliman, menurut anakku ini dia ditunjukkan nantinya tempatnya, yang akan ditempati setelah menjadi korban ini.., setelah mengetahui itu, saya dengan kyai, temannya dan para aparat desa, kami bersama-sama mau mendatangi rumahnya Bowo, malam-malam kami datang pak, karena siangnya Bowo itu tidak ada, jadi kami datang malam, anehnya pak, rumah mewahnya yang luas sekali berhektar-hektar itu gak ada sama sekali, kami semua tak melihat rumahnya di mana, padahal jelas di sebelah jembatan, jadinya sebelah jembatan malah gak ada rumah, adanya hanya kebon semua, lalu kami pun meminta tetangganya yang dekat supaya mengantar agar kami bisa menemukan rumahnya, dan aneh tetangganya itu malah masuk ke kebonan, ya kami kehilangan dia, dan dia kembali-kembali sudah di ujung, lalu kami panggil katanya dia sudah masuk ke rumahnya sama saya, dan juga rombongan saya, padahal saya sama rombongan tidak ikut masuk, lalu keputusan kyai yang beserta saya, rumahnya sangat kuat perlindungannya jadi tidak bisa di tembus.”

“Aneh juga…” kataku.

“Ya begitulah pak…, nah setelah kejadian itu kami berusaha mendatanginya di siang hari, karena di rumah tak ada maka kami berusaha mencari kesempatan pas dia si Bowo itu ada di sekolah, dan saat di sekolah di hari-hari tertentu, pas hari itu kami dan aparat desa mendatanginya, maunya untuk meminta pertanggung jawabannya, dan anehnya ketika kami di depan dia semua mulut kami seperti terkunci kami tak kuasa berbuat apa-apa, kami diam mematung, malah diam saja ketika dia menanyakan keperluan, yang asalnya kami mau marah-marah ya seperti lulut saja kayak kerbau dicocok hidung, malah dia menunjukkan kalau dia bisa membaca qur’an, padahal kata semua guru bahkan kata istrinya Bowo itu ndak bisa baca qur’an sama sekali.”

“Lalu selanjutnya bagaimana?” tanyaku.

“Ya begitu pak, setelah kejadian itu dia malah berkata pada saya, soal sakit anakmu itu berapa biayanya, semua saya ganti, begitu katanya, ya saya gak mau sambil saya minta jangan mengganggu anak saya, eee malah akhirnya bukan anak saya saja yang kemudian jadi kerasukan istri saya pun akhirnya kerasukan, malah lebih ganas lagi, sampai sebelumnya kyai yang menolong anak saya sadar, awalnya mereka sanggup membantu, akhirnya mereka semua angkat tangan gak sanggup, dan menyerah. Maka saya kembali mencari orang pintar untuk mengobatkan istri saya, kemana mana saya cari, sampai saya putus asa rasanya, kalau anak saya sebelumnya kerasukan kan dipegang orang delapan saja masih kuat, kalau istri saya yang kerasukan kok orang delapan yang memegangi saja gak kuat, semua dimentalkan, sampai suatu malam saya bermimpi, yang bisa menyembuhkan anak saya itu orang yang rumahnya di Jogya, di suatu daerah dan saya pun berangkat mengikuti isyarat mimpi saya, seharian di Jogya saya tanya kesana kemari, sampai akhirnya sampai di daerah yang saya tuju. Saya ketemu orang namanya pak Giman, dia orang yang tubuhnya lumpuh separo, dan berjalan memakai tongkat.

“Ada apa?’ tanya pak Giman,

“Ini pak saya mau minta tolong, soal istri saya yang kerasukan, sudah saya obatkan kemana-mana gak sembuh, bagaimana pak apa bapak mau membantu? Apa syaratnya?”

“Sudah bapak di sini saja…” jawab Pak Giman.

“Maksudnya pak?”

“Ya biar saya yang kesana..”

“Ke rumah saya bareng saya saja pak.”

“Gak saya kesana sekarang..”

Lalu pak Giman masuk kamar, dan setengah jam kemudian menemui saya lagi.

“Sudah istrinya sudah sembuh, silahkan bapak pulang.”

Saya heran, dan saya pulang, memang istri saya sudah sadar dari kerasukannya, dan menurut yang saya serahi nunggu di rumah, memang pak Giman datang dan menebas-nebas istri saya dengan daun sampai istri saya sadar, aneh memang pak, tapi itulah yang terjadi.”

“Setelah istri saya sadar dan seminggu kemudian ternyata anak saya kerasukan lagi, dan saya bingung karena seperti semula anak saya tidak bisa diobati, sampai akhirnya saya mencari kyai yang dulu pernah membantu menyadarkan anak saya, dia dan teman-temannya tak sanggup. Dan hanya memberikan cincin, setelah anak saya memakai cincin, memang lantas tak kerasukan, dan saya disarankan untuk mencari orang yang bisa mengobati di daerah Pekalongan, katanya yang bisa mengobati orangnya adanya di Pekalongan, maka saya bawa anak saya ke Pekalongan, saya mencari kontrakan, sambil mecari siapa yang bisa mengobati katanya di Pekalongan tinggalnya, soalnya petunjuknya gak jelas pak… orangnya muda saja … begitu kata kyai itu..”

“Selanjutnya bagaimana?” tanyaku.

“Ya begitu, setelah seminggu ngontrak, ndak juga saya temukan mencari orang yang bisa mengobati yang katanya muda, sudah beberapa orang saya datangi semua kalah sama jin yang ada di tubuh anak saya, saya kan makin bingung. Sampai malam ini, anak saya kambuh, sudah banyak jin yang datang kata anak saya, akan mengeroyok dan menguasai, maka saya bawa anak saya ke musholla, di mushola malah semua orang ditantang, mau diajak tarung, jadi ramai, nah ternyata salah satu yang di mushola adalah murid bapak, lantas saya dianjurkan dibawa saja ke tempat bapak ini…”

Setelah selesai bercerita, akhirnya ku tangani anak yang bernama Ningsih itu, ku beri mimun air, dan tanganku ku tempel ke punggungnya, sebentar lantas tak sadar, dan setelah ku usahakan ku tanya ternyata tak mau jawab sama sekali jinnya, diam membisu, kadang hanya menatapku, kadang tak berani menatap tapi tetap diam seribu bahasa, akhirnya, jin yang tak bisa memberikan informasi apa-apa ku keluarkan, karena kurasa tak ada manfaat di dalam lama-lama.

Semalaman gonta ganti jin, ku keluarkan tapi sama sekali tak satupun memberikan informasi, sebenarnya kalau bicara paling tidak akan ada informasi yang bisa digali. Akhirnya di malam pertama walau sudah beberapa jin ku keluarkan hasilnya nihil tak ada informasi yang bisa ku dapat.

Siangnya Bapak dan anak itu pulang, dan malamnya datang lagi karena biasanya memang malam jum’at kliwon atau malam sabtu kliwon, korban itu akan diambil sebagai persembahan, dan malamnya setelah datang ke tempatku, ku langsung beri minum air isian doa, dan ku tempel tanganku di punggungnya, sebentar kemudian sudah tak sadar dan satu dua jin seperti kemarin tak mau bicara, dan hanya diam seribu bahasa, akhirnya ku keluarkan, setelah 5-6 jin ku keluarkan, Alhamdulillah jin yang ke tujuh, ternyata menangis, wah ini bisa diajak komunikasi.

“Siapa ini?” tanyaku.

“Saya Bunga.” jawab jin dalam tubuh gadis itu sambil masih terus menangis.

“Kamu dikirim?”

“Ya.”

“Sama siapa?”

“Bowo..”

“Untuk apa?”

“Untuk menjemput anak ini.”

“Kamu muslimah?” tanyaku karena terdengar suaranya perempuan.

“Bukan.”

“Lalu apa agamamu?”

“Seperti Bowo.”

“Apa Hindu ?”

“Bukan.”

“Budha..?”

“Kristen?”

“Bukan.”

“Kafir?”

“Ya…”

“Kamu tak kasihan dengan anak ini? Kok mau kamu ambil jadi korban?”

“Kasihan…., tapi saya tak bisa menolak perintah Ratu?”

“Ratu siapa?”

“Ratu dewi.”

“Siapa itu?”

“Yang punya perjanjian dengan Bowo..”

“Perjanjian apa?”

“Perjanjian pesugihan.”

“Sudah berapa korbannya?”

“Banyak.”

“Banyak berapa?”

“Ya ada 37 orang, termasuk ayahnya Bowo sendiri.”

“Ayahnya dikorbankan?”

“Ya.”

“Yang lain dari mana yang dikorbankan?”

“Dari sekolah yang didanai.”

“Jadi anak sekolah itu dikorbankan?”

“Iya..”

“Apa yang merasuki teman sekolah anak ini kemaren itu juga ulahnya Bowo?”

“Iya…”

“Yang merasuk itu semua teman-temamu?”

“Iya semua temanku, atas perintah Bowo.”

“Berarti di sekolah itu banyak sekali jinnya?”

“Banyak…”

“Ada berapa?”

“Ratusan.”

“Kamu sendiri tinggal di mana?”

“Saya tinggal di pohon asem, tapi ditebang, jadi saya pindah ke mushola sekolah.”

“Kamu keluar ya…!”

“Gak mau..”

“Kenapa?”

“Ya gak mau..”

“Sekarang kamu di sebelah mana tinggal di tubuh anak ini?”

“Saya di kaki.”

Lalu aku menuju ke kaki gadis itu dan ku tarik keluar, lantas gadis itu sadar. Dan ku lihat sangat kelelahan, jadi ku biarkan saja agar istrirahat. Sampai besoknya malam akan ku selesaikan.

Besoknya setelah magrib gadis itu datang diantar lagi oleh ayahnya, sebenarnya aku sudah lelah sekali, karena disamping gadis itu aku seharian harus mengeluarkan jin yang ada di tubuh dua orang lagi tamuku, bahkan yang satu di dalamnya ada sampai hampir seratus jin dalam tubuhnya, energiku terkuras, maka ku putuskan memanggil murid-muridku membantu, agar bebanku agak berkurang, ku suruh murid-muridku mengeluarkan jin yang kapasitasnya ringan, sekalian mengajari mereka memakai ilmu yang ku berikan, sehingga kalau ada masalah yang sama jadi mereka sudah bisa.

Sampai saat jin yang bernama Bunga itu yang kemaren ku keluarkan yang ternyata ada di dalam, tandanya dia menangis, ku segera menanyakan, karena rupanya jin ini lumayan ramah menurut pendapatku.

“Kamu Bunga?” tanyaku.

“Iya.”

“Kenapa ada di dalam lagi, bukannya kemaren sudah saya keluarkan?”

“Iya saya disuruh masuk lagi..”

“Sama siapa?”

“Sama Bowo..”

“Apa waktu di tempat lain, yang mencakar wajah orang yang mengobati, juga waktu ngamuk di mushola itu juga kamu Bunga?”

“Iya…”

“Kenapa di tempat lain ngamuk, sedang di sini tidak?”

“Saya dilarang melawan?”

“Sama siapa?”

“Sama gurunya Bowo.”

“Dia bilang apa?”

“Ya saya dilarang jangan melawan.”

“Kenapa?”

“Karena gurunya Bowo takut.”

“Takut dengan siapa?”

“Takut denganmu.”

“Kenapa takut denganku?”

“Tak tau..”

“Apa bentukmu Bunga.”

“Saya perempuan cantik.”

“Sudah punya pacar “

“Ya belum…”

“Kenapa belum?”

“Karena umur saya baru 100 tahun.”

“Loh umur 100 tahun kok belum punya pacar?”

“Ya kan jin umur 100 tahun masih kecil.”

“Sebesar apa?”

“Sebesar anak kelas 1 SMP.”

“Oooo begitu?”

“Ya…”

“Lalu kenapa kamu menangis kalau muncul.”

“Karena saya sakit.”

“Sakit karena saya ini tidak bisa apa-apa.”

“Maksudnya?”

“Ibu saya ditawan Ratu, dan saya dipaksa mengambil anak ini jadi tumbal, kalau saya tak melaksanakan ibu saya disiksa,”

“Kenapa ibumu tak kamu bebaskan?”

“Saya sudah tak punya kekuatan, kekuatan saya diambil Ratu.”

“Kamu kasihan gak sama anak ini?”

“Kasihan..”

“Kalau kasihan kenapa gak kamu lepaskan?”

“Tidak bisa, karena saya kalau tidak mengambil anak ini ibu saya disiksa terus.”

“Disiksa bagaimana itu?”

“Ya dirantai sama dicambuki,”

“Kasihan..”

“Kamu lepaskan anak ini ya..”

“Ya tapi saya ditolong melepaskan ibu saya ya..”

“Iya… saya insaAllah akan bantu.”

“Iya saya tak ganggu anak ini, anak ini akan saya bantu lepas dari menjadi tumbal.”

“Nah begitu..”

“Kamu saya Islamkan?”

“Ndak mau.”

“Kenapa ndak mau.”

“Saya sudah pernah masuk Islam, diIslamkan oleh kyai yang mengislamkan saya, tapi saya kembali kafir.”

“Kenapa kembali kafir?”

“Karena saya disiksa Ratu, diperintah jadi kafir.”

“Bagaimana kalau masuk Islam, tapi tinggal di sini, kan dalam perlindungan saya, jadi ibu Ratu itu gak berani ngapa-ngapain.”

“Tak bisa, ibu saya kan disiksa.”

“Ya kalau begitu, kamu keluar dulu ya…. kasihan anak ini, kita ngobrolnya di luar saja, kamu sekarang di tubuh anak ini di sebelah mana?”

“Saya di punggung..”

Ku arahkan tanganku ke punggung, dan ku tarik Bunga keluar, gadis itu pun sadar. Anak itu pun duduk, dan sebentar kemudian dia nangis lagi..

“Ini Bunga?” tanyaku.

“Iya…” jawabnya pendek.

“Kok kamu masuk lagi?”

“Saya tak masuk..”

“Lalu di mana?”

“Saya di belakangnya anak ini,”

“Duduk apa berdiri?”

“Duduk., saya hanya meminjam mulut anak ini untuk bicara.”

“Ooo begitu.”

“Bunga…”

“Iya..”

“Kenapa kamu kok jadi pengikutnya Ratu?”

“Saya diajak teman-temanku.”

“Apa kerajaannya luas Ratu itu?”

“Iya.”

“Apa dia sakti.”

“Ya.”

“Sakti mana sama dengan ratu pantai selatan?”

“Sama-sama saktinya.”

“Saya dibantu ya..”

“Bantu apa?”

“Di dalam tubuh gadis ini ada berapa jin?”

“Saya tidak bisa melihat mereka.”

“Kenapa?”

“Saya dihalang-halangi penglihatan saya.”

“Sama siapa?”

“Sama mereka.”

“Lhoh bukannya mereka temanmu?”

“Bukan.”

“Lalu mereka siapa?”

“Mereka kiriman orang yang diarahkan untuk mencelakai anak ini.”

“Ooo begitu, jadi bukan temanmu?” tanyaku.

“Bukan.”

“Saya bantu melihat ya..” kataku sambil menempelkan tangan ke kening gadis yang kerasukan.

“Ya… ada 7.”

“Apa saja bentuk mereka?”

“Bentuknya macam-macam..”

“Yang mengirim siapa?”

“Yang mengirim, orang yang rumahnya di pinggir laut.”

“Kenapa mereka sama sekali tak menyerangku?”

“Semua takut,”

“Yang takut siapa?”

“Yang takut jin dan juga dukun yang mengirim.”

“Aneh… kenapa mereka takut padaku?”

“Tak tau, gurunya Bowo, dan ratu juga takut.”

“Denganku?”

“Ya.”

“Apa kamu juga takut denganku, coba pandang aku.”

Lama Bunga terdiam tak menjawab….. “Bagaimana?”

Dia diam saja..

“Aku tak akan mengapa-apakanmu kok, jangan takut.”

“Ya..”

“Kamu mau di sini saja, jadi muridku?”

“Mau… tapi saya kasihan sama ibu bapakku, yang ditawan ratu.”

“Sudah dulu ya Bunga… kasihan anak ini lelah, kamu pinjam lisannya..”

“Iya..”

“Jangan masuk lagi ke tubuh anak ini ya..”

“Iya…”

Wednesday, 3 July 2013

Sang Kyai 64

Setelah dzikir harian berjamaah, mbak Sun dan suaminya yang memang biasa mengikuti zikir harian, menghadap padaku, mas Slamet yang duduk di sampingku menjelaskan,

“Iya tadi ku suruh melihat foto mas, kok istriku ini jadi muntah-muntah dan kepala pening sekali.” jelas mas Slamet.

“Iya mas… saya sekarang kok jadi benci kalau melihat mas… ya salah mas apa kok saya jadi benci..” tambah mbak Sun.

“Hm, aneh juga… coba ambilkan air zikir yang kemaren..” kataku menyuruh mas Slamet Kliwon.

Air kemudian ku tiup, dan ku suruh minum mbak Sun, dan ku suruh melihat dan memegang foto profilku, yang ada di tablet. Selang sepuluh menit kemudian, mbak Sun tiba-tiba menangis, menangis sekerasnya seperti anak kecil… aneh juga, aku sendiri heran, bukan aku tau apa masalahnya, masalahnya aku sendiri tak tau kenapa kok menangis.

“Ampun pak, ampuni aku… ampuni aku pak…” begitu kata-kata yang diucapkan.

Aku sendiri masih tak ngerti apa sebab dan minta ampun dari apa…? Sampai akhirnya dia ingin muntah, dan muntah-muntah di depan rumahku, dipegangi suaminya, sampai akhirnya jatuh pingsan. Bingung juga menghadapi hal seperti itu… ku suruh mas Slamet menggotong istrinya ke tempat yang lebih bersih.

Tiba-tiba mbak Sun sadar dan muntah-muntah lagi, lalu pingsan lagi, begitu berulang-ulang, kasihan juga melihatnya, maka ku suruh saja bawa pulang, besok saja dilanjutkan.

Besoknya setelah dzikir ku coba seperti semalam, ku kasih air dan ku suruh menempelkan jari di foto, dan sekali tempel, langsung saja, tubuhnya lemas seperti orang pingsan, dan ketawa cekakak cekikik sebagaimana orang yang kerasukan.

“Ini siapa?” tanyaku, melihat jin yang ada di tubuh mbak Sun berulah, menendang-nendang suaminya yang mencoba memegangi, sehingga suaminya berkali-kali kena tendang.

“Sudah biarkan saja tak usah dipegangi..”

Mbak Sun menatapku…. dan dia memalingkan wajah.

“Hii takut… siapa kamu wong bagus, wajahmu menakutkan…” katanya.

“Kamu sendiri siapa?” kataku balas bertanya.

“Aku gak mau mengaku, kecuali kamu mau memenuhi syarat yang ku ajukan.”

“Apa syaratnya?” tanyaku.

“Syaratnya kamu mau menikah denganku.”

“Kalau aku tak mau..?”

“Ya aku tak mau mengaku siapa aku.”

“Ooo begitu, kalau begitu aku paksa mengaku.”

“Paksa pakai apa?”

“Paksa pakai ini..” lalu ku tempelkan tanganku ke tubuh mbak Sun.

“Aduuuuh panas, panasss… iya… iya aku mengaku, aku mengaku..”

“Kamu siapa?”

“Saya dikirim orang.”

“Siapa yang mengirim?”

“Ya saingan dagangnya perempuan ini.., aku dikirim diperintahkan untuk menghancurkan perempuan ini..”

“Siapa yang mengirim?”

“Dewi…”

“Punya saingan bernama Dewi kang Slamet?” tanyaku pada kang Slamet.

“Iya, orangnya jualan sebagaimana aku dan istriku.” jawab kang Slamet.

“Dikirim dengan dukun dari mana?”

“Dukun dari Jogya, malah Dewi membayar dengan memberikan tubuhnya dan membayar 10 juta untuk mengirimkan diriku.” kata jin yang ada di dalam tubuhnya mbak Sun.

“Bayar sama siapa?” tanyaku heran.

“Ya bayar melayani perantara dan dukunnya..”

“Ya sama perantara dan dukunnya.”

“Hm begitu…” kataku heran.

“Iya… hihihi..” jawab jin itu sambil cekikak cekikik.

“Kamu keluar ya…” kataku sambil menatap wajahnya yang berusaha menghindari tatapanku.

“Jangan menatapku begitu aku takut…, kamu siapa kok bagus bener wajahmu, tapi menakutkan..?”

“Aku gurunya orang yang kamu masuki ini..” jawabku tandas.

“Aku takut..” kata jin itu.

“Ya kalau takut keluar..”

“Aku ndak berani keluar nanti aku disalahkan dukun yang mengirimku…, aku nanti dihajar.”

“Takut mana denganku apa dengan dukun itu?”

“Ya takut denganmu…, badanku panas semua…, rasanya semua tulangku lepas.”

“Makanya keluar… jangan sampai aku marah nanti malah aku hancurkan kamu..”

“Iya iya…. saya keluar, tapi saya minta ijin dulu sama dukun yang mengirimku..”

“Ya kalau begitu ku bakar saja kamu…” kataku sambil mengulurkan tangan untuk memegang mbak Sun, dan dia menghindar, tapi kupegang kakinya, dan seketika tubuhnya lemas, tanda jin sudah keluar, dan mbak Sun sadar.

Selang beberapa saat, ku biarkan mbak Sun istirahat, karena ku lihat kelelahan. Lalu setelah ku rasa cukup, ku suruh lagi minum air isian, dan air segera dibuang,

“Air apa ini…?” katanya dengan suara orang lain lagi, pertanda sudah ada jin lain lagi.

“Dengan siapa ini?” tanyaku dan jin dalam tubuh mbak Sun melihat dengan mata nanar, dan ketika tatapan wajahnya melihatku, dia seperti silau dan berpaling.

“Kamu siapa?” tanyaku.

“Aku jin yang dikirim…”

“Dikirim siapa?”

“Aku tak mau menyebutkan…”

Ku tempel tanganku di tubuh mbak Sun….

“Aduh panaaasss, iya iya aku mengaku..”

“Dikirim siapa?”

“Dikirim Tobil…. yang mengirimku dulu suka sama orang ini tapi tidak diterima, jadi dia mengirimkan jin, agar orang ini mau dinikahi..”

“Orang mana?”

“Orang yang di daerah Kretek…”

“Sekarang kamu keluar atau ku paksa keluar?”

“Kamu siapa? Punya apa kok mau memaksaku keluar?”

Ku tempel saja tanganku ke tubuh mbak Sun dan ku tarik jinnya keluar, dan jin pun keluar.

Ku suruh lagi meminum air isian, dan sekali lagi air baru ditenggak, mbak Sun sudah lemas, dan berubah suara lagi menjadi suara lain.

“Siapa ini?”

“Kenapa nanya nanya?”

“Ya aku ingin tau kenapa kamu di dalam?”

“Saya dikirim…”

“Dikirim siapa?’

“Dikirim kyai Juki.”

“Kyai Juki itu siapa?”

“Itu Kyai yang sering jadi penceramah di masjid Agung sana…” jelas Taufik yang memang kenal kyai Juki.

“Ooo.. ” aku heran, kyai juga main jin.

“Iya dia di luarnya juga alim,” tambah Taufik.

“Wah wah… dunia, kalau begini kan ketahuan jadinya..” kataku.

“Untuk urusan apa kamu dikirim kyai Juki?” tanyaku pada jin yang ada di tubuh mbak Sun.

“Memangnya kau ada urusan apa? Kok nanya nanya?” jawab jin itu.

“Ya dia ini muridku… jelas jadi urusanku.”

“Kamu berani denganku..?” tanya jin itu. “Aku ini sakti.”

“Sakti..? Kalau sakti coba tatap aku.” kataku.

Dia menatapku tapi segera berpaling… “Ih takut, kau menakutkan, matamu menakutkan, panasss..”

“Bagaimana kau berani denganku sekarang?’ tanyaku.

“Kau ini siapa? Mengapa ilmumu tinggi sekali, kau muridnya siapa?”

“Aku murid syaikh Nawawi..” jawabku.

“Jangan sebut nama itu, panas,”

“Bagaimana mau melawanku.?”

“Tidak, tidak, aku tak berani, biar aku keluar saja…”

“Keluar sendiri atau ku keluarkan?”

“Aku keluar sendiri saja…” katanya dan mbak Sun pun lemas.

Malam itu entah berapa jin yang sudah ku keluarkan silih berganti jin ku keluarkan, karena malam sudah larut, maka ku sarankan untuk dilanjutkan besok paginya saja.

Dan siangnya mbak Sun datang lagi sambil diantar suaminya, di Facebook yang memakai Id Slamet Kliwon itu, segera saja ku suruh minum, dan aku lupa memberinya minum pakai gelas kaca, jelas gelas langsung dibanting pecah… dan mbak Sun sudah berubah menjadi orang lain.

“Siapa?” tanyaku.

“Aku kirimannya Siswoyo…”

“Siapa itu Siswoyo?”

“Siswoyo ya mertuanya Sun ini.”

“Itu mertuanya yang dulu mas..” jelas kang Slamet.

“Ooo…. begitu, lalu untuk apa kamu dikirim?”

“Dulu Sun ini tak mau dinikahkan dapat anaknya , jadi tubuhnya diisi jin, biar mau..”

“Jadi sudah lama kamu di dalam?”

“Ya sudah lama.., tapi sejak Sun ikut ngaji thoreqoh itu, tubuhku panas, aku gak kuat di dalam, aku kepanasan, ngaji di mana itu kok panas sekali..”

“Ya ngaji di sini, aku gurunya..”

“Hah takut aku, aku dikeluarkan saja, aku tak kuat..”

Segera jin ku keluarkan, dan ku suruh minum air isian lagi, dan langsung saja berubah menjadi suara lain.

“Dengan siapa ini?”

“Aku jin dikirim oleh Supeno dan Supeni.”

“Siapa itu?”

“Dukun suruhannya Siswoyo..”

“Ooo… kamu keluar ya..”

“Saya tak bisa keluar.”

“Kenapa?”

“Saya harus minta pertanggung jawaban pada Supeno dan Supeni.”

“Ya sana meminta pertanggung jawaban.”

“Tak bisa.”

“Kenapa.”

“Orangnya sudah meninggal semua..”

“Ya nanti minta pertanggung jawaban di akherat, sekarang kamu keluar.”

“Ya ya saya keluar tapi saya biarkan di tubuh perempuan ini sebentar, saya kasihan padanya, dia orang baik kok dikirimi jin.”

Aku tak sabar menunggu lantas saja jin ku keluarkan, tapi segera berganti jin baru…

“Siapa ini?” tanyaku.

Dia menggeleng.

“Kamu siapa?”

Dia menggeleng lagi… dan memberi isyarat kalau dia tak bisa bicara. Ku suruh ambilkan spidol dan kertas. Dan ku sodorkan di depannya.

“Kamu siapa?”

Dia menulis, ‘saya kiriman’,

“Sudah berapa lama di dalam?”

Dia menulis, ’20 tahun’.

Heran juga aku, tapi karena susah berkomunikasi, maka ku keluarkan saja jinnya.

Karena melihat keadaan mbak Sun kelelahan maka pengeluaran jin ku hentikan beberapa saat, dan setelah ku rasa cukup istirahat, ku suruh lagi mbak Sun minum air isian dan langsung saja berubah gerak geriknya,

“Dengan siapa ini?” tanyaku.

“Saya jin yang disuruh orang menyerang pada ayahnya anak ini.”

“Lhoh kenapa kok masuk ke anak ini?”

“Karena ayahnya berisi, jadi saya tak bisa masuk ke ayahnya, jadi saya masuki raga anaknya.”

“Wah kok begitu?”

“Ya…”

“Sudah berapa tahun di dalam?”

“Saya sudah 20 tahun lebih..”

“Banyak tidak yang di dalam?”

“Tak ada, semua sudah pada keluar.”

“Benar?’

“Benar.”

“Kamu keluar ya.., mau keluar sendiri, atau ku keluarkan?”

“Ya saya mau keluar, karena di dalam sudah tak ada teman ngobrol.”

“Lhoh memangnya di dalam juga nyangkruk ngobrol sama teman-teman?”

“Ya… sekarang saya tak ada temannya..”

“Kalau begitu keluar..”

“Kamu siapa? Aku takut denganmu, jangan menatapku seperti itu, aku takut.”

“Kamu kan jin, masak penakut.”

“Ya aku takut denganmu..”

“Nah kalau takut keluar sana…”

“Sebentar aku masih mau di dalam..”

Ku tarik saja jinnya keluar karena pembicaraan ku anggap sudah tak ada manfaatnya.

Jin itu kebanyakan pembohong kelas berat, ketika dikatakan di dalam tak ada lagi, aku tak lantas percaya, dan ku suruh mbak Sun minum air isian lagi, dan benar saja, masih saja ada jin di dalam.

Sekalian ku suruh kang Slamet melatih ilmunya mengeluarkan jin dari tubuh istrinya, ketika jin dipegang, jin berontak, dan kang Slamet kuwalahan.

“Konsentrasi pada lafadz Allah kang..” kataku.

Kang Slamet pun konsentrasi dan memegang istrinya, baru istrinya kuwalahan dan tak berdaya, lalu ditanya.

“Siapa ini?” tanya kang slamet.

“Aku jin muslim,.”

“Jin muslim?” tanyaku.

“Ya..”

“Berarti hafal fatekhah.”

“Hafal…” lalu jin itu membaca fatekhah dengan lancar.

“Kenapa di dalam?”

“Saya dikirim orang, tapi saya lupa dikirim untuk apa… saya di dalam sudah hampir 30 tahun..”

“Wah lama juga, tolong siapa saja orang yang menonton ini, siapa saja yang ada jinnya, kamu bisa menunjukkan?”

“Ya saya bisa..”

Lalu jin itu menunjukkan siapa saja orang yang hadir yang ada jinnya, dan juga menunjukkan siapa saja nama-nama keluarganya orang itu, apa kerjaannya dan lain-lain, heran juga jin bisa tau sedetail itu tiap orang, gak tau bagaimana cara dia mengetahui, apa dengan cara menanyakan jin yang ada di dalam tubuh orang itu atau bagaimana.

Setelah berdialog panjang lebar, akhirnya jin itu ku suruh keluar, dan setelah itu, ku suruh minum dan memegang fotoku tak ada reaksi apa apa, ku rasa jinnya sudah bersih.

Cerita soal jin ini masih panjang dan sekali lagi ini hanya pengalaman, sebenarnya siapa saja bisa mempunyai apa yang ku punyai bisa sepertiku jika mengamalkan sebagaimana yang ku amalkan, jadi bukan karena mengamalkan sebuah ilmu untuk mengeluarkan jin atau sejenisnya, cukup mendekatkan diri pada Allah, berusaha selalu istiqomah dalam menjalankan laku amaliyah, nanti akan Allah anugerahkan berbagai ilmu, ilmu dari sisi Allah, bukan ilmu yang dipelajari, bukan dengan khodam jin atau malaikat. Sebab kita tak butuh jin juga tak butuh malaikat, para malaikat itu sudah sejak penciptaan Adam, malaikat tugasnya adalah melayani Adam, makanya diperintah sujud pada Adam, jadi tak perlu kita meminta, malaikat itu akan melayani kita, membagikan rizqi, membagikan hujan, mencatatkan amal perbuatan kita, tak usah kita repot menyediakan berlembar-lembar kertas, dan berliter-liter tinta, malaikat sudah mencatatkan amal kita, juga kita mau mati saja malaikat itu akan dengan suka rela mencabutkan nyawa kita, kita tak usah repot-repot membetot nyawa sendiri, sudah ada malaikat yang akan mencabutkan nyawa kita, malah ndak usah kita bayar dengan nyicil atau kontan, mereka akan melakukannya.

Jadi yang kita butuhkan bukan khodam, yang kita butuhkan adalah penyesuaian penghambaan kita kepada Allah, meletakkan diri sesuai dengan kodrat kenapa kita diciptakan.

Kejadian yang kita alami, adalah cara Allah menunjukkan keberadaannya dan agar kita bisa mengetahui keagungan dan kebesaranNya, seandaipun kita tak mengakui selamanya Allah itu Maha Agung dan Maha Kuasa, kekuasaan dan kebesaranNya tak tergantung atau bersandar pada apapun yang DIA ciptakan, Allah maha satu dan maha sendirian, tak bergantung pada tempat atau suasana. Kita manusia hanya bisalah mengambil manfaat dari pelajaran yang Allah berikan dari kejadian setiap hari, itu seperti qur’an yang dijelaskan dengan kejadian nyata.

Juga pengalaman yang ku alami, seperti menaklukkan jin, sama sekali bukan berarti aku ini ahli dalam jin, atau dalam pengalaman yang ku alami soal aku ini mengobati santet, sama sekali lantas aku ini orang yang tau seluk beluk soal santet, kita kembalikan saja pada Nabi kita, Muhammad SAW, beliau itu bukan jebolan sekolah manapun, bukan jebolan universitas ternama, juga bukan jebolan universitas Trisakti atau universitas Indonesia, tapi sampai sekarang Nabi kita itu dianut seluruh orang Islam di seluruh dunia, kurasa juga beliau tak pintar dan faham betul soal santet, atau ilmu sihir manapun, tapi beliau adalah sumber segala ilmu dari Allah karena wahyu melewati beliau, jadi bukan juga saya ini tau soal santet, atau soal jin, malah sama sekali saya tak tau, saya hanya menjalankan dan berusaha mengamalkan yang diwariskan nabi, bukan hanya mendialogkan atau membicarakan, tapi mengamalkan, karena saya yakin apa yang dibawa Nabi itu hal yang haq dan benar, lalu kok kemudian saya bisa mengeluarkan jin, sebenarnya juga tak saya ketahui sama sekali, kok bisa? saya tak mengambil pusing kenapa kok bisa atau tidak, dijalani saja yang seharusnya dijalani, sebagaimana Nabi itu bukan seorang yang pintar baca tulis dan pintar baca, kok bisa menyampaikan Al-qur’an dengan benar bahkan bahasanya yang sangat tinggi tak satupun yang salah? dan bisa mengarahkan orang dari dulu sampai sekarang dengan petunjuk yang dibawanya, karena ada campur tangan Allah di dalamnya.

Pengalaman yang saya alami juga saya sendiri tak meributkan bagaimana saya kok bisa, ya menurut saya juga siapa yang mengamalkan seperti yang saya amalkan juga akan bisa, dan kenyataannya banyak murid saya juga yang bisa mengobati sembarang penyakit dan juga bisa mengeluarkan jin dari tubuh seseorang, kok bisa? ya kenyataannya bisa, jika mau membuktikan kenapa tak mengikuti apa yang saya amalkan, kan lebih mudah mencari buktinya, daripada hanya menyangka nyangka, dan kan bisa tau apa yang saya amalkan itu melenceng tidak dari agama? misal membaca qur’an itu apa melenceng dari agama? menjalankan puasa sunnah itu apa melenceng dari agama? nah agar tau, kenapa tak mencari tau masuk dalam lingkunganku?

Kembali soal pengalaman, ini juga namanya pengalaman, kejadian yang sama sekali tanpa direncanakan, tak seperti sinetron atau film tv, jadi ending ceritanya kadang tak bisa ditebak, termasuk saya sebagai orang yang mengalami.

Habis isya’ ada tamu dari Tegal, biasanya jam delapan, ada dzikir harian di majlis, tapi karena ada tamu, masak ku tolak, kalau dzikir sudah mulai ya ku biarkan saja tamu menunggu sampai dzikir selesai, karena dzikir belum mulai maka ku temui tamu,

“Ada apa?” tanyaku pada dua tamuku.

“Saya dari facebook mas…” jawabnya.

Lalu ku tanya Id nya dia, karena aku tak tau semua tamu yang datang, setelah menjelaskan baru aku ingat paling tidak sedikit, sebab sehari pesan yang masuk ke inboxku ada 200an pesan kalau pesan terjawab lantas terjadi dialog, ya sehari sampai ada 300-400 pesan masuk, dan setiap pesan yang masuk, aku tak bisa mengetahui setiap orang perorang, apalagi kalau jawab pakai opera mini, tak ketahuan fotonya, apalagi kalau orangnya memakai foto bukan foto asli, maka makin sulit lagi, hampir tiap hari ada saja teman facebook datang ke rumahku, bahkan ada yang jauh jauh datang naik pesawat, malah pernah ada yang sudah bela-belain datang naik pesawat, dan sudah sampai di rumahku, aku sendiri sedang dalam menjalani kholwat tidak menemui siapapun, makin susah kan, ya kenapa juga gak kasih kabar kalau mau ketemu.

“Ada keperluan apa?” tanyaku.

“Saya ingin minta dilihat apa saya ada jinnya..” kata satu orang, sebut saja namanya Rohman.

“Kenapa tak lewat facebook saja? kan bisa lewat dari facebook.” kataku.

“Ya biar makin mantep ketemuan sama mas…”

“Ooo ya ndak papa…, coba minum air ini..” kataku setelah mengambil air, dan ku tiup.

“Dia lantas meminum air…”

Lantas ku sodorkan fotoku di depannya, “Ini jarinya ditempelkan.”

Lalu ku lihat dia menempelkan jari telunjuknya di tengah dada foto… sebentar sebentar dia menggelengkan kepala.

“Wajah mas berubah-rubah..” katanya sambil menggelengkan kepala.

Biasanya, ini biasanya, saya sendiri juga tak tau bagaimana kok bisa begitu, jadi ini ku ambil dari kebiasaan saja, sebenarnya aku sendiri juga tak tau kenapa kok jadi seperti itu, biasanya kalau di dalam tubuh seseorang tersebut ada beberapa jin, misal 10 jin maka fotoku akan berubah menjadi 10 wajah, wajah jin yang ada di dalam tubuh orang tersebut.

Benar saja suara pemuda yang di depanku sudah berubah, menjadi suara orang lain.

“Siapa?” tanyaku.

“Hmmm… aku jin…”

“Muslim?”

“Ya aku muslim..”

“Assalamualaikum..” ucapku.

“Waalaikum salam..”

“Kenapa kamu di dalam?”

“Saya dikirim.”

“Atas perintah siapa?”

“Atas perintah perempun yang disakiti pemuda ini..”

“Lalu maksudnya?”

“Maksudnya ya saya diminta menghancurkan kehidupan pemuda ini.”

“Lhah kamu kan jin muslim, antara muslim dengan muslim yang lain kan saudara, bagaimana kamu kok bisa dan mau dikirim untuk menghancurkan pemuda ini?”

“Saya ditaklukkan orang yang mengirimku.”

“Wah hebat berarti yang mengirimmu itu..?”

“Ya…”

“Lalu kenapa kamu ndak keluar dan lari?”

“Saya tak bisa keluar..”

“Kenapa?”

“Karena saya diancam dan saya tak tau bagaimana saya harus keluar.”

“Hm begitu,….?”

“Aduh tubuhku ini kamu apakan ustad…?”

“Kenapa? Aku tak mengapa-apakan.”

“Tapi tubuhku sama sekali tak berdaya, seperti ditindih gunung..”

“Ya aku tak tau, aku kan tak mengapa-apakanmu.”

“Berapa jin di dalam tubuh pemuda ini?”

“Banyak…”

“Berapa?”

“Ada 20 an jin..”

“20? wah banyak juga.”

“Iya, tapi mereka semua jin fasik.., dan semua sudah kabur, ketika masuk kesini tadi, semua takut pada ustad?”

“Takut padaku?”

“Ya..”

“Apa mereka semua bentuknya?”

“Ada yang berbentuk macan, ada yang berbentuk ular, kera dan lain-lain, pokoknya macam-macam, tapi mereka cemen semua, masak sama ustadz takut, hahahaha…”

“Wah wah.. mungkin mereka merasa kalah ganteng sama aku sehingga keder, hehehe…”

“Ustad bisa saja, hehehe…, ustad tau apa bentukku?”

“Aku tak tau, wong aku ndak bisa melihat jin..”

“Bentukku naga, hahahaha…”

“Wah naga besar kalau begitu?”

“Ya sebesar pohon kelapa…”

“Wah ngeri juga bentukmu, hhehehe..”

“Aduuuh… aku ustad apakan, kok semua badanku sakit begini?”

“Aku tak mengapa-apakan kamu.”

“Ustad tau… aku ini umurku berapa?”

“Ya mana aku tau.., umurmu berapa?”

“Umurku sudah ribuan tahun, aku dulu murid Sunan Gunung Jati, yang mengislamkanku Sunan Gunung Jati, aku juga sebenarnya menjaga makam Sunan Gunung Jati.”

“Wah senang berkenalan denganmu.., siapa namamu?” lalu dia membisikkan namanya di telingaku, dan karena yang melihat banyak maka dia membisikkan lagi sesuatu padaku.

“Kamu keluar ya dari tubuh orang ini.”

“Ya saya mau ustad, mau sekali, apalagi ustad yang memerintahkan, ustad adalah murid syaikh Abdul Qodir Jailani, semua bangsaku takut dan tunduk pada kewalian beliau, jadi saya ustad perintahkan, dengan senang hati saya akan keluar..”

“Lalu kenapa ndak keluar?”

“Saya tak bisa keluar ustad.”

“Kenapa?”

“Ya saya tak tau..”

“Ustad…! Boleh saya meminta ijazah ilmunya..?”

“Untuk apa, bukankah ilmumu sudah banyak?”

“Masih banyakan ustad..”

“Ilmu apa yang kamu minta?”

“Angkat saja saya jadi murid, nanti saya akan bisa keluar.”

“Ya gak papa… ku terima kamu jadi murid.”

“Kobiltu, saya terima jadi murid ustad.”

“Ya.. keluar ya..”

“Ya ustad, saya dibantu..”

“Ya saya bantu…”

Jin itupun keluar, dan pemuda itupun sadar.